Mi Ayam

Sebenarnya masak mi ayam nya minggu lalu. Berhubung ada yang mintain resepnya. Baiklah. Saya kabulkan permintaan kalian semuaaaa… Kalian luar biasaaaaa…. *loh*

Bahan : 

2 bungkus mi telur

1 ekor ayam

4 rumpun sawi hijau

5 siung bawang putih, haluskan, bagi dua.

1/2 bawang bombay

2 lembar bawang prei

1 bungkus saori saos tiram

3 sdm saos sambal

1 bungkus ladaku

3 lembar daun jeruk

Kecap asin secukupnya

Kecap manis secukupnya

Garam secukupnya

Cabe rawit yang dihaluskan, bawang goreng, kerupuk pangsit untuk pelengkap.

Cara memasak :

1. Pisahkan ayam dari tulangnya, potong dagingnya kecil-kecil. Tulang ayam di rebus dengan 2 liter air, masukkan sebagian bawang putih halus dan garam secukupnya. Tunggu sampai mendidih. Masukkan irisan bawang prei. Jadi deh kuahnya.

2. Tumis sebagian lagi bawang putih, bawang bombay, dan daun jeruk sampai harum. Masukkan potongan ayam, aduk pelan-pelan. Yak pelan-pelan. Jangan sampai kebawa emosi. Hehehehe.. Masukkan ladaku, saori saos tiram, saos sambal, kecap asin, kecap manis, dan garam. Tuang sedikit air dari rebusan tulang tadi. Sedikittt aja. Dan biarkan sampai bumbu meresap. Resapi dan hayati… 

3. Rebus sawi. Rebus mi. 

4. Dannn tinggal penyajian. Mi, sawi, tumisan ayam, ditata dalam mangkok. Siram dengan kuah. Tambahkan saos, bawang goreng, cabe rawit halus, dan kerupuk.

Bisa untuk 8 porsi. Silahkan dicoba.. Oh ya, untuk memulai masak, tinggalkan semua persoalan hidup, baik persoalan rumah tangga maupun pekerjaan. Apalagi jika baru saja membaca sosmed yang bikin grrrrr… Redam dulu, tenangkan pikiran, dan bawa happy. Supaya yang makan happy juga. 

Balada Si Daun Kari

Kari ayam. 

Salah satu makanan favorit saya. Sejak di Padang ini, cuma di Hot St*tion saya menemukannya. Makanan ini susah sih masuk kategori makanan khas apa, India, Arab atau Melayu. Di Medan mah gampang dapetinnya, apalagi kalau dipadu dengan roti jala dan acar nenas.. Hmmm… Yummy..  Masaknya juga gampang, tinggal beli bumbu giling (biasanya udah dikasih juga daun-daunannya), ditumis, kasi santan, masukin ayam, kentang, tunggu sampai menyerap, jadiiii… Beda kalau disini, udah beli ke toko bumbu india pun yang dikasi dalam bentuk bubuk. Coba dimasak, masih kurang pas rasanya, lebih mendekati rasa gulai ayam biasa. Search di google, ternyata ada satu daun yang emang jarang dijumpai disini. Daun kari namanya. Keliling pasar mana pun disini belum nemu mana itu yang namanya daun kari.

Daun kari alias temuru alias salam koja alias Murraya Koenigii, banyak dijumpai di daerah Aceh. Merupakan daun yang sangat berkhasiat mengobati berbagai penyakit, seperti disentri, diabetes, bahkan baik untuk gigi dan gusi. Aromanya yang khas membuat daun ini sering digunakan sebagai pelengkap bumbu masakan. 

Diceritakan dalam suatu kisah. Ketika etek-etek sedang ngidam mi aceh. (malah nyambung ke mi aceh,, eittss,, ya mbok sabar piye tho, baca aja dhulu nanti kalo mau protes silahkeun, kalo bhaca ya sampe abhis, gimana tho sampeyan).

Yak, ketika etek-etek ngidam mi aceh, yang lokasinya kurang jauuuhhhh, hehehe… Maka, dengan niat tulus ikhlas dan dengan perencanaan yang matang, kami pun meluncur ke kafe mi aceh yang letaknya di kawasan pantai Malin Kundang. Dan heyyyyyyyyyy….!!!!! Saya ketemu daun kari disini…!!! A khir nya ku menemukanmu… Dududududu… *sambil bersiul*

Walau kafe ini lokasinya jauh, dan menu yang ditawarkan hanya mi aceh dan nasi goreng, saya pasti akan kembali kesana, rasanyaaaaa enaaaaakkkkk, kopmilnya pun enaaaaaakkkkk. Biasanya, ngemut kopiko aja saya bisa pusing, kopi aceh ini memang luar biasa. 

Kembali ke daun kari. Bapak-bapak yang punya kafe ini banyak memberi informasi mengenai daun kari. Tidak info aja, bahkan kami dapat daun kari seruas seorang. Alhamdulillah. Sambil menyelam minum air.

Niatnya, tentu saja pengen masak kari ayam kesukaan saya. Saya simpanlah itu daun di tempat dedaunan masakan di dapur. Pas hari libur saya mesti eksekusi itu daun. Ternyata, apa yang terjadi, sodara-sodara.!!!! Daun itu saya temukan di kantongan tempat sampah. Ondeh mak oiiiiiii… Niat masak kari ayam tentu aja tidak surut. Dan tadaaaaaa…… â€‹

Rasa kari sesungguhnya. Akhirnyaaaaaa. Eksekusi saya terhadap daun kari berhasil dongggg..*kibas jilbab*.. Setelah si daun kari disucikan tentunya, hehehehe….

Catatan perjalanan : Semarang, Pekalongan, Jakarta

Satu kata yang menggambarkan perjalanan beberapa hari kemarin adalah BEBAS. Yaa.. Bebas dari SPJ. Bebas dari kertas-kertas. Bebas dari angka-angka. Fabiayyi ‘ala irobbikumaa tukadzdziban. Nikmat Tuhanmu mu mana lagi yang kau dustakan. Alhamdulillah. Perjalanan kemarin masih menyisakan gelak tawa. Rasanya sejak zaman kuliah dulu, baru kemarin saya bisa tertawa selepas dan selebar itu. 

Masing-masing dari kita mempunyai peran, tugas telah dibagi dan tidak akan berjalan sukses tanpa peran yang lain. Ada Imel dan Ida yang ngurusin sedari awal hingga adanya perjalanan ini. Ada Sari dan Fani yang ngurusin spj nya. Ada Umi dan Iret yang memberikan kalimat penyejuk di saat kepala panas ketika persiapan perjalanan. Ada Idel dan ni Hera yang refleks menggantikan posisi Abang Nadir saat kita di Jakarta, mulai dari booking hotel, akomodasi, transportasi, dll. Terutama buat ibu hamil. Jempol deh. Ada juga Ntepi, yang menghibur kita dengan celotehan dan tembang-tembang lawasnya. Dan semua itu tidak akan berjalan disiplin dan teratur tanpa komando dari Budir.. Prok prok prok.. *standing applaus buat Budir*

Kamis, 8 Desember 2016. Berangkat pukul 11.55 menuju Jakarta. Delay sekitar 30 menit. Alhamdulillah lancar dan tiba dengan selamat. Sesampai di Terminal 3 Soeta yang sedang “in”, kami langsung sholat, istirahat, nyambi selfie di ruang tunggu menunggu pesawat tujuan Semarang. Setelah delay 30 menit kami pun lanjut ke Semarang. Sesampai di Semarang, kami langsung disambut dengan bus pariwisata yang akan membawa kami ke Pekalongan. Bersama Mas Juned sebagai tour guidenya, jadi tau sejarah singkat kota Semarang. Sebelumnya kami makan di RM. Sederhana. Nah ini. Saya ketemuan dengan Ayah Nisa disini. Sempat diabadikan oleh paparazzi hingga dibuat meme seperti ini. Malu? Ngga ah. Wong halal kok 😛

​

Setelah itu kami muter-muter dulu di kawasan simpang lima dan mencoba wisata uji nyali di Lawang Sewu. 

​

Dari Lawang Sewu, kami langsung menuju Pekalongan. Perjalanan memakan waktu sekitar 2,5-3 jam. Sampai di Hotel Sidji sekitar pukul 24.00. Alhamdulillah, walau tarif 400.000/malam, kamar yang didapat cukup representatif, breakfast pun cukup bervariasi. Desain hotel sangat mewakili namanya, sidji yang artinya satu, nomor satu di Pekalongan (kata mbah google lho). Interior menggabungkan konsep etnik dan modern. Di tiap sudut terdengar alunan musik keroncong. Aaaaakkkk… Saya sukaaaaaaaaa sekaliiiiiiiiii. â€‹â€‹â€‹â€‹â€‹

​

Jumat, 9 Desember 2016. Pagi hari jam 08.00, meluncur ke Balaikota Pekalongan. Disana kami diterima untuk acara studi komparatif dengan BLUD Puskesmas Kota Pekalongan. Berhubung waktu singkat karena ibadah sholat jumat, kami pun pindah tempat dan melanjutkan diskusi tanya jawab di Dinas Kesehatan Kota Pekalongan. Kesimpulan dari studi komparatif ini adalah kami jadi lebih pede lagi, karena dokumen dan laporan yang kami buat lebih lengkap, jika dibandingkan dengan BLUD Puskesmas Kota Pekalongan. â€‹

Selanjutnya, yuuuukkk hunting batik di tempat asalnya.. Ternyata… Ohlalaaaa… Ekspektasi saya terlalu tinggi. Sebagai pecinta batik, saya kecewa. Motif yang sedang ngetren disana terlalu banyak warna, sementara saya sukanya motif klasik dengan warna minim seperti kawung, parang, mega mendung, dll. Pengecualian buat gambar dibawah, saya suka, tapi dompet saya tidak rela 😀

Cuaca tidak bersahabat, sehingga tidak memungkinkan untuk ke pantai seperti yang telah direncanakan sebelumnya. Tidak kecewa sama sekali, karena kami yakin pantai kami lebih indah dari pantai di Pekalongan, hehehehe… Eits, jangan bilang kami langsung bobok cantik di hotel. Setelah makan malam, kami lanjut karaoke sampai jam 24.00 dini hari. Ondehhhh… Mak-mak macam apa mainnya ke karaoke sampai tengah malam..!!!!  Ckckck… Tapi ya dinikmatin aja, sebelum berkutat lagi dengan pekerjaan yang bikin hampir sakit jiwa.
Sabtu, 10 Desember 2016. Jam 07.00 kami mulai start dari Pekalongan menuju Semarang untuk membeli oleh-oleh, tak lupa kami pun singgah ke Sam Po Kong, vihara yang dijadikan tempat wisata di Semarang. Foto-foto sejenak sebagai tanda bahwa kami pernah punya cerita disini. â€‹

​Di bandara, kelompok pun terbagi 2. Ada yang langsung pulang ke Padang, sementara kami mak-mak rempong masih nginap di Jakarta. Sampai di Jakarta jam 15.30. Kami langsung buka aplikasi grab car untuk kemudahan jalan kesana kemari. Disamping nyaman dan hemat juga. Misalnya saja, dari Tanah Abang ke Sarinah Thamrin cuma 15 rb. Hemat kannn… Cocok untuk kami manis manja grup yang ga bisa bawa kendaraan satu pun. *katanya di Padang juga ada, blm nyoba sih*.

Di Jakarta kami nginap di Ibis Hotel Tanah Abang. Seminggu sebelumnya sudah booking kamar. Rencana ambil 3 kamar yang muat untuk 3 orang, dengan tarif 387.000/malam. Ternyata ada miskomunikasi antara pihak hotel dengan booking.com sehingga kami bisa dapat 5 kamar dengan harga yang sama. Yaaa… Namanya juga rezeki mak sholehah.. 😉

Minggu, 11 Desember 2016. Pukul 07.00 pagi kami start menuju Monas untuk sarapan. Setelah itu langsung meluncur ke Tamcit. Keliling mencari sesuai selera. Dan selera batik saya malah ada disini. Ngga banyak beli sih. Mengingat dan menimbang bakalan mudik ke Medan ngga kurang dari seminggu lagi. 

Begitulah, perjalanan ini bakalan kami ingat seumur hidup. Banyak suka dan duka. Semoga awet sampai nantinya dikembalikan ke habitat masing-masing. Aamiin..

Ps. Sesampai di rumah saya disambut dengan ini. Batik lagi. Batik lagi 🙂

​

​

Curhat dikit, sedang sedih :'(

Sebelum amazing moment #411 kemarin, jempol saya sudah gatal-gatal untuk memberikan komen atau nyetatus, tapi itu saya tahan, karena teman saya sangat beragam. Tidak ingin teman-teman saya yang “beda” itu sedih. Tapi, melihat aksi kemarin, tak henti-hentinya saya merinding, terharu, dan tak tahan ingin mencurahkan perasaan saya. Begitu banyak umat yang datang dari penjuru untuk berkumpul bersama membela agama yang sangat dicintai. Mulutpun tak henti mengucap memuji nama Allah. Subhanallah walhamdulillah walaailaahaillallah wallahu akbar. Allahu akbar. Allahu akbar. Allahu akbar.

Saya ingin seperti dulu, masa sebelum ada sosial media, masa dimana toleransi itu ada. Saling mengingatkan, saling merangkul, saling menjaga. 

Seperti yang sudah saya sebut sebelumnya, saya punya banyak teman yang berbeda dengan saya. Saya dilahir kan sebagai orang batak, dibesarkan dilingkungan yang sebagian besar nasrani, tetapi orangtua saya tetap menanamkan nilai agama Islam pada anak-anaknya. Saat itu indah sekali. Bagiku agamaku bagimu agamamu berjalan di koridor masing-masing. 

Saya rindu saat itu. Saat sedang berada di perjalanan, azan berkumandang, supir angkot yang notabene seorang nasrani secara refleks mengecilkan volume radionya. 

Saya rindu saat itu. Saat jalan bersama, masuk waktu sholat, teman-teman tionghoa saya rela mengantarkan kami ke mesjid untuk segera menunaikan ibadah sholat. “Biar aman main-main kita..” katanya.

Saya rindu saat itu. Saat ketika orangtua salah satu teman saya wafat, meski asing dengan adat yang mereka anut, kami tak ragu menguatkan disampingnya.

Yang ada sekarang, membuat semuanya semakin berbeda. Provokator semakin memperuncing suasana. Yang dulu teman, tak segan melempar ejekan dan olokan pada agama yang saya sangat cintai. 

Ya Allah, setipis-tipisnya iman, saya tetap mendoakan semoga mereka mendapatkan hidayah, karena Engkau maha pembolak-balik hati. Tunjukilah kami jalan yg lurus, jalan yg benar, jalan yg tidak Engkau murkai dan bukan jalan yg sesat. Aamiin aamiin ya rabbal aalamiin.

Bukan Baksos Biasa

Kenapa judulnya bukan baksos biasa?

Awalnya kami menduga kalau baksos ini akan sama dengan baksos-baksos lainnya, karena info yg kami dapat sebelumnya tidak akan ada tindakan seperti pencabutan, penambalan, dll. Yang ada hanya pemeriksaan gigi dan penyuluhan yang diakhiri sikat gigi massal. 

​

​

Oh ya, baksos diadakan di salah satu SD di Painan Pesisir Selatan, kerjasama antara Grup Diamond Dentist (grup alumni FKG USU), Showa University Japan dan PDGI Painan. Apa pula keterlibatan Jepang sama baksos ini? Nahhhhh itu dia yang membuat baksos ini tidak biasa.

​

Begini ceritanya..

Alkisah (etdahhhhh…) seorang alumni FKG USU, yang akhirnya sekolah dan mengajar di Showa University, Prof. Syafiuddin Teuku, memiliki tujuan yang amat mulia, yaitu mengumpulkan alumni yang udah berserak dimana-mana, baik dari Medan, Jakarta, Pekanbaru, bahkan Kuala Lumpur untuk mengadakan satu event “bakti sosial ke delapan propinsi di Sumatera”. Baksos diadakan 8 tahun berturut-turut. Painan merupakan trip kedua setelah Sabang di tahun 2015 lalu. Kebetulan beliau juga sedang mengadakan riset, maka tempat untuk baksos dipilih sepanjang pantai barat Sumatera. 

Riset apa sih itu?

Sejak tahun 2004, Indonesia terutama Sumatera sudah sering dilanda gempa dan beberapa kali tsunami. Efek dari guncangan dan pergerakan lempeng di pantai barat Sumatera ternyata menghasilkan suatu zat di perairan ini yaitu vanadium. Otomatis vanadium di pantai barat lebih banyak jumlahnya dibanding pantai timur Sumatera. Nah, Prof. Ombo (nama tenarnya) ingin membuktikan zat ini ada kaitannya ngga dengan prevalensi karies (gigi berlubang) pada anak. Karena jumlah karies pada anak di sepanjang pantai barat Sumatera jauh lebih sedikit dibanding anak-anak di pantai timur. Inilah yang ingin beliau teliti, dengan metode sampling, beberapa anak diambil air ludahnya dengan cara swab, dan dilihat apakah mengandung vanadium atau tidak. 

Sehubungan dengan riset ini, maka semua biaya akomodasi, transpor, makan, penginapan dll ditanggung oleh pihak sponsor dari Jepang. Mantap kannnn… 

Hmmm.. Oh ya, bak kata pepatah, seperti ilmu padi, makin berisi makin merunduk. Prof. Ombo ya seperti itu. Orangnya humble, meski sudah lama melanglang buana sampai ke Jepang, beliau tidak pelit ilmu, dan tidak lupa sama akarnya disini.

Menurut jadwal, selesai baksos akan jalan-jalan keliling Painan. Tapi Allah berkehendak lain. Hujan pun awet, jalan-jalan pun gagal total (itu bagi kami, bagi kawan-kawan dari Medan jalan terosssss, nyebrang pulau pun mereka ngga takut). Yaaaa… Dasar ngga mau rugi, kami “culik” prof ini untuk kami curi ilmunya, hehehee.. Sepanjang siang sampai sore, jadilah buka kuliah singkat disini. Refresh lagi. Bukan kuliah saja, pengalaman bagaimana beliau di Jepang, bagaimana beliau mempunyai hak paten terhadap produk bahan praktik kedokteran gigi di Jepang, pun dibagi alias dicurhatin. Halah. Sangatttt sangattttt menarik..​​

​
Hmmm, sayangnya kami dapat izin dari pak suami masing-masing ngga pake nginap. Tapi cukuplah, untuk ngobatin kangen dengan beberapa teman dan dosen yang udah lamaaaa ga jumpa. Dan terutama ini, semakin yakin dalam hati, dan semakin bangga menjadi satu dari sekian ribu dokter gigi alumni USU. Karena kami ini hebat, kami ini kuat, dan kami ini tidak biasa 🙂  (Hehehe.. Baper yah saya.. Maklum, sedang sensi kalo sebut profesi dan almamater)

​

Sekian.

Sampai jumpa di baksos tahun depan. Inshaallah kalau tidak ada halangan kami mau curi ilmu lagi 😉

​

Meetup Abekanian Sumbar

Yak, sudah ngga asing lagi dengan brand kulit abekani kan? Tentu ga usah lagi lah panjang lebar saya cerita bagaimana bisa jatuh cinta sama brand ini yaaa..

Hmmm, jika ada sebab maka ada akibat. Oleh sebab memiliki keinginan dan tujuan yang sama, maka para abekanian (sebutan untuk pecinta abekani) membentuk satu komunitas yang disebut dengan abekanian lovers. Seiring waktu berjalan, semakin hitsnya brand ini dikalangan pecinta tas khususnya, membuat jumlah member semakin membludak, bahkan merambah sampai ke mancanegara.. Nah, mba dan mas owner menginginkan agar ada yg membantu mengkordinir para abekanian berdasarkan wilayah domisili. Tercetuslah dan lahirlah abekanian sumatera besar. Dannnn sekali lagiiii, member semakin buanyaaakkk, kakak kordinator wilayah sumatera besar pun mulai lelah, karena itu terbitlah (apa sihhh…) korwil-korwil per daerah.. Dan akhirnya, terjadilahhhh… Ada grup abekanian sumbar, khusus untuk wilayah Sumatera Barat dan sekitarnya, yg dikomandoi uni Yunelda.. Mulai dari mengumpulkan ciek-ciek urang di grup WA. Alhamdulillah, sejauh ini menyenangkan, banyaaaakkk info perkulitan yang saya dapat dari grup ini. Walau meetup pertama saya ngga bisa hadir karena satu dan lain hal. Meetup kedua harus diusahainnnn.. Harusss…

Ternyata, meetup ini serentak diadakan di seluruh Sumatera. Mulai dari Medan sampai Lampung.. Kereeennnn ih abekani iniii.. Itulah bedanya abekani dibanding brand lain.. Fenomenalllll.. Produk lokal cita rasa internasional.

Diputuskan serentak dijadwalkan hari Sabtu, 24 September 2016. Untuk Sumbar diputuskan untuk ketemuan di Taman Melati Komplek Museum Adityawarman. Waaaaa… Ngga sabarrrr… Pengen ketemu abekani model lainnn..

Waktu yang ditentukan tiba, akhirnya ketemuan, ternyata.., cukup satu kata.. SENANG. Ketemu orang baru, info baru dannnn inceran saya nambah lagi. Ituuu travel hobo kulo bagusnyaaa mashaAllah..

And

​

​
Here we are….

Moga makin kompak dan makin kece ya buebuuuu…

It’s not just about a bag, but it’s about a HUGE friendship.. 🙂

Lebaran 1437 Hijriah

Taqabbalallahu minna wa minkum. Taqabbal yaa kariim..

Masih dalam suasana lebaran kan yah? Hehehe.. Alhamdulillah.. Yaaa walau cuma terhitung 4 hari saja full di Medan, tetap dilihat kualitasnya bukan kuantitasnya. Setujuu???

Yak, 4 hari, biasanya semingguan, belum lepas rindu rasanya. Nisa juga, sempat galau dan termehek-mehek di dalam pesawat, sesampai di Padang pun juga, seharian mewek terusss… Dan saya sudah berjanji, kalau nilainya bagus yuuuk kita capcus lagi ke Medan pas liburan anak sekolah. Puas-puasin main sama Zoya, bang Feyi, dek Ami, dek Gilang, dek Atih. Puas-puasin juga wisata kuliner lagi. Hmmm… Gara-gara cuti tahunan dibatalkan, rusak susu sebelanga. Rencana trip ke Parapat pun tinggal goodbye. Hahaha…

Beruntung masih sempat foto keluarga, nonton di XXI (yang kali pertama buat Nisa nonton di bioskop), nguliner bareng keluarga juga. Tetap bersyukurrr alhamdulillah..

image

Ngga sabar nunggu editan foto keluarga dari om Yasser, jadi foto tunggal dulu lah yang di pajang yah 🙂

Surat cinta untuk Annisa

Dear my lovely Annisa,

Selamat ulang tahun yang ke 8 ya, nak e… Semoga segala doa yang sudah terucap diijabah oleh Allah SWT. Aamiin..

Delapan tahun yang lalu, tepat pukul 16.00, Nisa lahir.. Semua harapan dan kasih sayang tertumpu pada Nisa. Teruslah menjadi anak solehah, sehat, dan cerdas. Jangan pernah berhenti untuk belajar ya nakkk..

Alhamdulillah atas segala pencapaian Nisa selama ini, kami semua bangga, tapi harus terus rendah hati, jangan sombong..

So much love,
Ibu.

Ps. Cieeeee.. Ulang tahun ke 8 udah bisa makan mi pakai sumpit.. Dan janji makannya ga disuapin lagi, puasa penuh pas Ramadhan dan nyelesaikan hafalan surat terakhir juz 30.. Semangat Nisaaaa…. Go Go Go…

Hello holiday…

Naik kereta api tut tut tuuut….

Bukaaannn, bukan ke Bandung atau Surabaya….. Tapi ke Pariaman. Naik kereta Sibinuang.

Rencana pagi-pagi sekali kami cusssss berangkat ke stasiun Simpang Haru, sesampai disana jam 06.30. Kirain bakal dapat kereta jam 07.15, apa daya tiket sold out, eh ndak, masih ada tapi berdiri, hahaha… Jadilah kami antri untuk kereta jam 09.00. Semuanya tepat waktu, loket dibuka jam 07.30. Dalam hitungan menit ludesssss… Alhamdulillah kami dapat, walau ada sedikit perang urat syaraf dengan orang yg ngga mau antri..

image

Ini kali kedua buat saya dan si anak kecil naik kereta. Sensasinya tentu jauuuuuhhh beda dong, yg pertama dulu kami naik kereta subway Kuala Namu-Medan yg harga tiketnya membuat ayah si Nisa menangis. Hahaha.. Kalau yg ini murah meriah. 5000 saja/orang..

image

Tujuan kami Pantai Gondoriah, Pariaman yang kebetulan letaknya berada tak jauh dari stasiun, cukup berjalan kaki sekitar 300 meter saja. Si anak kecil langsung euforia ngeliat pasir pantai.

image

image

image

Si ome pun ga mau ketinggalan bergaya ala Dian Pelangi 😉

Tak banyak waktu kami habiskan di pantai, karena takut ketinggalan kereta, jam 13.00 kami antri lagi untuk beli tiket pulang ke Padang. Keberangkatan sih jam 16.20, tapi antriannya astaghfirullah, drama lah kali ini. Dengan stasiun yg tidak begitu luas, dan jumlah calon penumpang yang membludak efek liburan. Loket dibuka jam 14.30. Bayangin aja antri 1,5 jam, beragam semerbak manusia, suara tangisan bayi, tetap dibawa santaaiiiii, saya belum pernah beginian, dibawa ketawa dengan ngobrol ngalur ngidul dengan sesama calon penumpang. Hahaha.. Oh iya, jangan harap ada calo disini, karena satpamnya galak. Tetep aja ada yang curang yah, ga mau antri meski satpam segalak apa pun. Detik demi detik nunggu loket dibuka, akhirnya ini diaaaa… Semua teriak histeris ngeliat abang-abang ganteng mirip artis korea penjual tiket. *beneran ganteng loh*

image

image

image

Alhamdulillah dapat tiket pulang. Capek tapi pengalaman baru. Kalau ditanya mau naik kereta lagi, mikir dulu deh kalau musim liburan 🙂

Cross stitch : Wedding couple

image

Orderan dari seorang teman sudah selesai, meski paaaaaaaaanjang dan laaaaaaaama waktu buatnya. Baru bisa ngestitch pas weekend aja. Syukurlah, si pemesan puas sama hasilnya. Sebagai permintaan maaf karena kelamaan, saya kasi pigura gratis tis tis..!!! Kurang apa coba.. Ckckckck…

Proses pengerjaan memakan waktu sebulan, tidak terlalu sulit, dan memanfaatkan kain aida dan benang sisa, heheh.. *makanya berani kasi pigura gratis*

Agak sulit pas waktu memutar otak untuk mikirin polanya, walau sebagian nyontek dari pinterest sihhh.

Seru juga memulai bisnis yang sesuai dengan hobi ternyata, beda puasnya..  Asik nih kalau diterusin. Yaa, kita tidak tau rezeki bakal datang dari mana, manfaatkan saja anugerah yang diberiNya.. Ya kannnnn….